English for Job and Scholarship Hunting di CDC Fisipol UGM

Career Development Center (CDC) Fisipol UGM selaku lembaga pengembangan mahasiswa yang mewadahi informasi pelayanan karir dan beasiswa bagi alumni mahasiswa Fisipol UGM mempercayakan Center for International Language and Cultural Studies (Cilacs) Universitas Islam Indonesia untuk menyelenggarakan kursus bahasa Asing Asia dan Eropa bagi mahasiswa S1 & S2 Fisipol UGM.

Kerjasama di tahun ke empat ini diselenggarakan kelas Bahasa Korea level dasar dan kelas bahasa inggris. Sebelumnya telah diselenggarakan kelas bahasa Mandarin, Perancis dan Jerman. Di kelas Bahasa Inggris pada periode ini CDC UGM membekali mahasiswanya dengan kelas “English for Job and scholarship Hunting”, dimana materi lebih difokuskan pada pelatihan bahasa yang sering digunakan dalam proses wawancara kerja ataupun beasiswa. Sedangkan kelas bahasa Korea hanya merupakan program tambahan  yang bersifat soft skill bagi mahasiswa Fisipol UGM.

Kedua program yang dijalankan ini dilaksanakan mulai tanggal 20 September 2018 Di Gedung Kampus Fisipol UGM Ruang BA 204 yang diikuti oleh 20 peserta, diharapkan dimasa yang akan datang pelatihan ini dapat memberikan manfaat lebih setelah mereka lulus nantinya. (Ank/Iyn)

Pimpinan dan Staff Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) Asah kemampuan Bahasa Inggris di Cilacs UII

Sebagai upaya peningkatan kualitas karyawan dalam komptenesi bahasa Inggris, serta peningkatan pelayanan di Geomaritime Science Park  (PGSP) mengadakan pelatihan bahasa Inggris dengan materi khusus yaitu English for Museum Staff. Kegiatan dilaksanakan di kantor PGSP atau yang sering disebut Museum Gumuk Pasir yang beralamat di Depok Parangtritis, Kretek Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini sering kali mendapat kunjungan dari warga negara asing selain juga pengunjung domestik yang berasal dari berbagai kota di Indonesia.

 

Dalam kegiatan pelatihan ini, PGSP selaku institusi pemerintah yang difasilitasi oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerjasama secara dengan Cilacs Universitas Islam Indonesia dengan taeget utama dalah percakapan (Conversation) yang bisa diaplikasikan secara langsung ketika bertemu dengan tamu asing dari negara lain.

Kelas berlangsung selama 15 hari selama bulan september 2018 ini dan diikuti oleh 12 orang peserta dengan jadwal dua kali dalam seminggu. Menurut koordinator  kegiatan dari PGSP Fajrun Wahidil Muharram menyampaikan “program ini merupakan pengalaman pertama bagi PGSP, namun demikian program yang dijalankan kali ini sangat menarik dan semoga memberikan semangat agar peserta terus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya kelak”. (Ank/Iyn)

Program BIPA Cilacs Ajak Mahasiswa Asing Mengenal Budaya Lokal

Kemahiran berbahasa Indonesia yang baik menjadi penting dikuasai bagi mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia, tidak hanya dibutuhkan dalam aktivitas akademis namun dapat membuka peluang dalam menggali dan mengenal khasanah Indonesia secara lebih luas, baik kehidupan sosial maupun budaya. “Telah menjadi harapan bersama agar mahasiswa asing dapat turut menjadi agen dalam mempromosikan Indonesia di ranah internasional, pengalaman sosial dan budaya yang di dapat selama di Indonesia tentunya menjadi oleh-oleh yang menarik untuk dibagikan saat mereka kembali ke negaranya masing-masing,” ujar Fitri Nugraheni, Ph.D., Kepala Cilacs Universitas Islam Indonesia yang baru saja dilantik dalam kepemimpinan periode tahun 2018 -2022. Sejalan dengan hal tersebut, Cilacs sebagai penyelenggara program Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) menawarkan skema pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing yang dipadu dengan sesi pengenalan budaya lokal.

Sesi budaya selain menjadi value added juga diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk lebih dekat dan mengenal budaya lokal bahkan setelah berakhirnya program BIPA. Seperti yang baru saja dialami 4 mahasiswa asal Australia antara lain Anna Ren’an Ding (University of New South wales), Anjaly Tessa Saji (Macquarie University), Jiyao Joanna Ge (University of Sydney), Hwei-See Kay (university of technology Sydney), mereka baru saja menyelesaikan program BIPA di Cilacs dalam persiapan menempuh Program Indonesian Business, Law and Society (IBLS) di Universitas Islam Indonesia. Sepanjang proses kuliah sebanyak 3 SKS mereka mendapat kesempatan untuk belajar membatik di Museum Batik Yogyakarta serta belajar menari jawa. Tidak hanya itu, tiga dari empat mahasiswa ini berkesempatan untuk melakukan perform  dalam pembukaan salah satu kegiatan studium generale yang dilaksanakan Cilacs pada 15 September 2018 di Kampus UII Demangan.

Menurut Fitri, setiap mahasiswa yang mengambil BIPA di Cilacs akan diberikan kesempatan untuk memilih jenis sesi pengenalan budaya antara lain menari jawa, memasak masakan lokal, membatik, jemparingan, belajar gamelan dan belajar pembuatan keris. “Cilacs juga telah menandatangani MoA kerjasama bersama Career Development Center UNPAR (Universitas Parahyangan)  di Bandung untuk program serupa yang memungkinkan mahasiswa untuk mengenal budaya tidak hanya dari Jawa namun juga Sunda, dengan mengkolaborasi dua lokasi pembelajaran, Jogja dan Bandung, ini adalah salah satu pengembangan yang Cilacs telah lakukan untuk program BIPA di UII, tambahnya. (adt)

Kuliah Perdana Progressive 27 dan Wisuda Angkatan Progressive 25 Cilacs UII

Demangan. Kuliah umum adalah proses yang wajib dilaksanakan sebelum memasuki masa perkuliahan mahasiswa baru, dalam kegiatan tersebut diharapkan mahasiswa baru dapat saling mengenal satu sama lain. Progressive Cilacs UII yang merupakan program bahasa Inggris intensif  setahun  pada Sabtu 15 September 2018 kali ini mengadakan Studium Generale (kuliah perdana) bagi mahasiswa baru angkatan 27. Kegiatan dilaksanakan sejak pagi dan dilaksanakan di Cilacs UII Jl. Demangan Baru 24 Yogyakarta menggunakan ruang Auditorium Cilacs UII lantai 3.

Kegiatan dihadiri oleh kurang lebih 50 orang merupakan mahasiswa baru Progressive angkatan 27 serta siswa kelas reguler Cilacs UII periode Juli 2018, khusus untuk mahasiswa Progressive yang terdaftar adalah mereka yang memenuhi persyaratan akademik maupun administrasi Cilacs UII. Sebelum mereka diterima calon mahasiwa diharuskan mengikuti serangkaian tes yang dimaksudkan untuk menjaring mahasiswa yang memiliki kemampuan dengan level tertentu dan dapat mengikuti proses KBM selama satu tahun yang akan datang.

Kuliah perdana ini dibuka secara resmi oleh Kepala Cilacs UII, Fitri Nugraheni, Ph.D yang diwakili oleh Head of Marketing Cilacs UII yaitu Aditya Suci, S.Pt. Dalam sambutannya disampaikan ucapan selamat datang dan ungkapan rasa bangga dari pihak Cilacs UII karena telah menjadi mahasiswa Progressive angkatan 27 tahun 2018 ini,  dalam prosesnya nanti diharapkan dapat berjalan dengan baik hingga mencapai wisuda dan dapat memberi manfaat positif bagi semua pihak.

Sementara itu, dalam sesi kuliah umum, Cilacs UII menghadirkan salah satu dosen senior PTS di Yogyakarta yang sekaligus interprener dan motivator  yaitu Rosyidah Jayanti Vijaya, SE., M.Hum. Dalam kuliahnya Ms Rosyidah memberikan banyak sekali tips bagaimana cara mudah mempelajari dan memahami bahasa Inggris dengan mudah, salah satunya adalah yang dilakukan sekarang ini, berkumpul dalam satu komunitas yang memiliki tujuan sama. Hal tersebut dapat meningkatkan motivasi untuk terus belajar yang nantinya akan berimbas pada peningkatan skill setiap mahasiswa.

Dalam pelaksanaan kuliah umum ini juga dilakukan prosesi wisuda Progressive angkatan 25 sebanyak 10 orang mahasiswa. Dalam keempatan ini pula Cilacs UII menyuguhkan pentas tari Nawung Sekar yang diperagakan oleh mahasiswi BIPA Cilacs UII. (Ank)

Prodi MIAI FIAI UII Uji Kemampuan Bahasa Inggris Mahasiswanya

Dalam rangka peningkatan kemampuan mahasisiwa Magister Ilmu Agama Islam (MIAI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia sekaligus mencetak lulusan terbaik yang sesuai dengan tuntutan pasar global saat ini, Cilacs UII dipercaya sebagai partner dalam kegiatan Workshop dan Seminar Tes Kompetensi Bahasa Inggris yang dirangkai dengan tes Certificate of English Proficiency Test (CEPT).

Kegiatan berlangsung pada Sabtu tanggal 8 September 2018 di ruang Auditorium PPs FIAI UII kampus UII Unit Demangan Jl. Demangan bAru 24 Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 08.30 wib-15.00 wib dan diikuti oleh sebanyak 30 orang mahasiswa MIAI FIAI UII. Program ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa karena menjadi persyaratan kelulusan, bahkan sertifikat/score report yang diperoleh nanti tentu bisa bermanfaat sebagai portofolio ketika lulus untuk keperluan studi lanjut maupun bekerja.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Prodi MIAI FIAI UII Dr. Junanah, MIS. Dalam sambutannya beliau berpesan agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan banyak memeberi manfaat bagi semua pihak.

Seminar dan Workshop kali ini, Cilacs UII menghadirkan pembicara sekaligus pengajar senior Cilacs yaitu Ferry Desnita yang kerap dipanggil Miss Ita. Materi seminar dan hasil tes yang diperoleh tersebut diharapkan memberi wawasan tambahan kepada mahasiswa. Terutama tentang berbagai jenis tes bahasa Inggris yang ada di Indonesia, sedangkan hasil (sertifikat/score) yang diperoleh nanti diharapkan dapat bermanfaat sebagai portofolio yang dapat digunakan ketika lulus untuk keperluan studi lanjut maupun bekerja. (Ank)

Mendapatkan Beasiswa Plus Jodoh Lewat Bahasa Inggris

Menguasai bahasa Inggris baik aktif maupun pasif adalah satu kunci besar untuk bisa meraih beasiswa sekaligus kuliah ke negara berbahasa Inggris. Setelah mengabdi kepada Indonesia lewat menjadi pengajar muda Gerakan Indonesia Mengajar tahun 2015, saya memutuskan kembali mendalami bahasa Inggris yang fokus untuk persiapan TOEFL dan IELTS di Cilacs UII. Setelah selesai mengikuti kursus, saya memberanikan diri ambil tes TOEFL dan di saat yang sama sedang dibuka beasiswa LPDP. Alhamdulillah dari hasil mengikuti tes tersebut, saya gunakan untuk mendaftar LPDP dan ternyata lolos. Saat ini saya sudah masuk tahun kedua kuliah di The University of Adelaide, Australia Selatan.

Keputusan saya mendalami bahasa Inggris adalah pilihan yang sangat tepat sebagai langkah meraih mimpi saya kuliah di luar negeri. Tentu apabila mimpi saya tidak dibarengi dengan tindakan nyata melewati peryaratan kemampuan berbahasa Inggris, saya tidak akan pernah kuliah S2 ke negeri Kanguru ini. Saya sadar dengan skor TOEFL 420 yang saya dapatkan saat kuliah S1 tidak akan melewati persyaratan pemberi beasiswa, sehingga saya bertekad menaikkan skor tersebut. Proses belajar bahasa Inggris yang sungguh-sungguh saya lakukan akhirnya membuahkan hasil. Setelah menaklukkan TOEFL, saya pun melanjutkan bergelut dengan IELTS sebagai syarat untuk diterima kampus di Australia.

 

Saya berkesimpulan bahwa untuk meraih kesuksesan dalam berbahasa Inggris butuh kesungguhan, kerja keras dan kecintaan. Saat itu saya berani mengeluarkan uang tabungan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris sebagai investasi kesuksesan setelahnya. Satu tekad besar yaitu bisa kuliah ke luar negeri dengan beasiswa, sehingga saya pun selalu membarengi dengan kerja keras mendalami bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Saya menghidupkan semangat berbahasa Inggris dalam diri lewat kedisiplinan diri belajar setiap hari. Dari saking semangatnya, saya berusaha selalu sampai di tempat kursus 15 menit sebelum kelas di mulai saat ambil kelas IELTS bersama Mr. Imam.

Satu hal lagi yang sangat saya perhatikan dalam menekuni bahasa Inggris adalah saya melakukannya dengan rasa cinta. Saya percaya bahwa hidup akan selalu indah apabila menjalani semua proses dengan penuh kecintaan. Dalam perjalanan belajar bahasa Inggris yang panjang saya melawan rasa bosan dan frustasi dengan mencintai kegiatan belajar bahasa Inggris, bahkan saya sering bercanda dengan teman-teman dan dosen di kursusan. Tidak terasa, saya seperti menemukan keluarga dekat di setiap ruang-ruang kursus. Lebih jauh lagi, saya mendapatkan istri Ratna Sari lewat pertemanan di lembaga kursus Cilacs UII. Betapa bersyukur sekali, dengan keputusan menekuni bahasa Inggris, saya bisa mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, sekaligus menemukan belahan jiwa. Alhamdulillah J